Kali ini pun masih
dalam penantian yang sama. Dengan rasa yang entah bagaimana menelusurinya.
Dengan nama masih sama yang setia ku sebut di kala doa. Entah Tuhan telah bosan
atau bahkan bingung mendengarkannya. Terkadang ku meminta kepada-Nya untuk
mendekatkan kita, tetapi di lain sisi ku harap agar lenyap rasa yang tak
semestinya ada untuknya. Hingga kini pun Tuhan belum menjadikan lagi kita,
tetapi belum pula hilang rasa ini untuknya.
Entah bagaimana aku
harus bercerita. Darimana aku harus memulainya. Apa yang akan aku tanyakan
kepadamu. Bagaimana cara ku meminta kepastian darimu. Kamu begitu
mengabaikanku. Tanpa peduli aku (masih) menunggumu. Masih ku pegang tiga kata
yang terucap darimu. Dulu, sekarang selamanya. Apakah itu hanya sepenggal kata
yang terucap dari siswa SMA? Ataukah sebuah bualan manis darimu?
Akankah kamu hanya
sebagai goresan pelangiku?? Kamu mewarnai kehidupan yang datang selepas rinai
hujan, namun hilang kemudian. Ya, kamu dulu yang setia mendengarkan semua ocehanku,
yang menguatkanku kala cobaan bertubi-tubi mengujiku. Hingga sebaris kata itu
pun terucap darimu. Walaupun ku malu-malu menjawabnya, namun kamu mengerti
maksudku. Kamu pula lah yang mewarnai hari-hariku kala itu, menyingkirkan
keabu-abuan duniaku. Kamu selalu punya cara untuk membuatkku semakin nyaman
dengan hadirmu. Walaupun kamu menyikapi ku dengan sifat cuek mu, namun aku
masih dapat merasakan perhatianmu padaku. Butuh kesabaran extra untuk
mengiringimu. Namun, entah karena kamu sudah bosan ataukah karena kesibukanmu,
waktu pun semakin menumbuhkan jarak antara kita. Tak ada lagi pesan darimu
secara langsung tertuju padaku. Oke, mungkin kita masih sering bertemu dalam
suatu grup karena kita bertemankan dengan sebagian orang yang sama. Fisik kita
pun didekatkan kala itu, namun ada sekat yang entah bagaimana caraku
melewatinya. Aku tidak mengenalmu. Hanya satu yang aku tahu, bahwa kecuekanmu
dulu telah menjelma dalam dingin sikapmu. Yang dulu mampu mewarnai hariku, kini
membekukan duniaku.
Walaupun masih tersisa
keyakinanku akan mu. Masih namamu yang ku selipkan dalam setiap doa ku. Tenang,
aku tidak memaksakan Tuhan agar menyatukan kita. Aku hanya meminta takdir
tebaik dari Nya untuk kita. Semoga kita selalu bergahagia entah dengan ataupun
tanpa. Meski pun dengan harapan kau lah jawaban atas sebuah doa yang telah, akan
dan selalu menemani setiap nafas kehidupan. Namun hasil akhir sepenuhnya
kuserahkan kepada Nya, Sang Pembolak-balik Hati. Tentangmu yang (masih) ku nanti.
–s15c-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar