KKN (Kisah KeponakaN) Iis Dahlia
Oleh: Sukma Choliardika
Dalam essay ini,
saya akan menuangkan kisah singkat tentang manis asamnya ukiran kehidupan yang
saya lalui sebagai mahasiswa mendekati akhir yang sedang menjani KKN di desa
Kedungcangkring.
Hari Senin, tanggal 10
Juli 2017 tepatnya pada pukul 07.00 telah menjemput dari zona nyaman ku sebagai
mahasiswa. Ya, saat itu merupakan puncak pembekalan terakhir sekaligus sebagai
pelepasan mahasiswa semester 7 yang akan melaksanakan KKN Tematik Posdaya di beberapa
daerah di nusantara. Acara tersebut dilaksanakan di lapangan utama IAIN
Tulungagung dan dibuka oleh Bpk. Dr. Maftukhin, M. Ag., selaku Bapak Rektor IAIN
Tulungagung yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan pengarahan mengenai
sikap dan kewajiban sebagai mahasiswa KKN . Hingga acara tersebut selesai
dengan lancar.
Setelah pembukaan di
kampus selesai, kemudian dilanjutkan menuju ke Posko masing-masing.
Kedungcangkring merupakan desa pilihan saya untuk menjalani lika-liku kehidupan KKN. Di sepanjang jalan
pikiran saya menari-nari tak karuan, memikirkan kemungkinan apa yang terjadi
disana. Sekilas terlintas dibenakku "Bagaimana kalau aku tidak bisa
beradaptasi disana? Bagaimana kalau cuacanya gak bersahabat? Bagaimana kalau
ada bagaimana yang lainnya?".
Sejenak rindangnya
pepohonan disepanjang jalan mengalihkan kemeluk hatiku. Hingga tak terasa sudah
sampai di depan Posko. Setibanya disana, bu Win selaku pemilik rumah telah
menyambut ramah dengan goresan senyumnya. Beliau memberikan kunci rumah serta mempersilahkan
masuk. Kegiatan yang kami lakukan pertama yaitu membersikan serta menata rumah
agar dapat ditempati semua anggota kelompok tak terkecuali membuat sekat
pembatas untuk kaum adam dan kaum hawa.
Keesokan
harinya, sebagian teman-teman anggota Posko mengikuti pembukaan KKN di
kecamatan dan dilanjutkan adanya kunjungan bu Faizatul Istiqomah, M. Ed selaku
dosen pembimbing lapangan (DPL). Saat Kunjungan tersebut, beliau memberikan arahan serta
nasihat selama berada di lingkungan yang baru. Selain itu, kami juga berdiskusi
dengan beliau mengenai agenda pembukaan KKN di di desa Kedungcangkring. Setelah
diskusi selesai, kami pun melanjutkan untuk menyambung tali silaturahmi dengan
bu Seniwati selaku Kepala desa Kedungcangkring dan membahas mengenai pembukaan
di balai desa sekaligus meminta izin secara informal mengenai keberadaan kami
di desa ini.
Kemudian hari-hari
berikutnya, kisah saya benar" dimulai disini. Diawali dengan membuat
mading Posko, bersilaturahmi ke tetangga Posko, mengajar TPQ, hingga membaca
yasin dan tahlil di Posko untuk mengawali semua kegiatan yang akan kami jalani disini. Sebenarnya, ini
kali pertamanya saya mengajar TPQ bahkan saya pun bukan termasuk dalam devisi
keagamaan. Tak dapat dipungkiri bahwa sebelum berangkat mengajar TPQ, aura
panas dingin mulai menyelimutiku. Perasaan takut salah, anak-anak yang sulit
diatur pun mulai luntur saat setibanya di tempat TPQ. Ternyata anak-anak maupun
guru TPQ disana menyambut dengan hangat kedatangan kami. Suasana pun
mencair dengan sendirinya seiring berjalannya waktu saya mengajar.
Pada awal KKN,
tiap pagi teman-teman di posko selalu di sambut oleh senyuman polos anak-anak
kecil tetangga posko. Karena saat itu masih bertepatan dengan liburan semester
sekolah. Kami pun mulai berkenalan dengan mereka dan hal-hal yang menggeletik
pun sering terjadi terlebih saat sebagian dari mereka menganggap saya sebagai
keponakannya seorang artis. Ya mereka mengatakan bahwa saya keponakannya Iis
Dahlia karena saya memiliki kumis tipis. Dan sejak saat itu, mereka memiliki
panggilan kesayangan kepada saya yaitu “Kakak Keponakannya Tante Iis Dahlia”.
Entah saat mereka main ke posko untuk belajar, maupun saat bertemu di jalan,
panggilan kesayangan itu selalu muncul.
Akhir Minggu
pertama pun diisi dengan mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK guna membahas
agenda-agenda yang akan berlangsung untuk acara PHBN baik di desa maupun
partisipasi di kecamatan. Dan minggu pertama ditutup dengan kerja bakti di
objek wisata Panji Laras, kemudian gladi bersih untuk acara pembukaan KKN di
desa. Mengenai objek wisata Panji Laras ini merupakan objek wisata yang mulai
dirintis di desa Kedungcangkring.
Minggu kedua
diawali dengan pembukaan kegiatan KKN Tematik Posdaya di desa Kedungcangkring.
Agenda tersebut dihadiri oleh DPL, Bu Kades, dan perangkat desa serta tamu
undangan lainnya. Meskipun pembukaan KKN yang diselenggarakan di desa terpaut
jauh dengan pembuaan KKN yang dilenggarakan oleh kampus, alhamdulillah agenda
tersebut berjalan dengan lancar. Setelah agenda tersebut usai, DPL berkunjung
ke posko untuk mengingatkan tugas masing-masing dan supaya menjaga diri dengan
baik kemudian dilanjutkan dengan evaluasi posko 1 dan 2 guna menjaga
silaturahmi semua peserta KKN di desa Kedungcangkring serta pembubaran
kepanitiaan pembukaan KKN di desa.
Keesokan harinya
kisah saya pun berlanjut dengan mengunjungi salah satu usaha produk olahan
singkong yang terbilang sudah cukup terkenal di sini yaitu tape. Sesuai devisi
yang saya emban yaitu devisi ekonomi, kami dari devisi ekonomi berusaha
menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang hasil utama di desa ini. Setelah
itu saya membantu devisi kesehatan yang di minta tolong oleh pihak pukesdes untuk
melakukan pendataan keluarga sehat. Untuk memperoleh data tersebut kami harus
berkeliling satu dusun dengan mengetuk satu per satu rumah yang ada disana.
Kemudian saya
pun menjalankan proker devisi ekonomi bersama rekan-rekan devisi yaitu membuat
kerajinan bunga dari platik dengan tujuan agar bisa memberikan inspirasi
mengubah barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Dan malam harinya
saya terkadang membantu devisi pendidikan untuk memberikan les kepada adik-adik
disekitar posko yang sudah mulai masuk sekolah.
Minggu kedua
ditutup dengan senam pagi dan dilanjutkan kerja bakti di objek wisata panji laras
yang merupakan sasaran posdaya yang akan digalangkan oleh rekan-rekan KKN.
Disana kami setiap minggunya membantu dengan sepenuh hati baik tenaga maupun
pikiran.
Minggu ketiga
pun masih berjalan dengan lancar. Devisi ekonomi kembali mengadakan pelatihan
kepada anak-anak untuk membuat kerajianan dari kain flanel guna menambah kreatifitas
mereka. Antusias mereka diluar dugaan, mereka sangat senang dan menyukai
kegiatan ini. Setiap bertemu mereka selalu menanyakan kapan membuat kerajinan
lagi. Selain itu minggu ini juga saya isi dengan membantu mengajar menari di SD
serta mendapat kunjungan spesial dari pihak LP2M.
Minggu keempat pengalaman baru pun menyapa
lagi. Kali ini saya mendapat tugas untuk piket di balai desa. Dan sebelumnya
saya sangat jarang memasuki yang namanya balai desa. Tapi alhamdulillah,
perangkat desa disini semuanya welcome terhadap kami. Namun ada saat
dimana tiba-tiba saya disuruh masuk ke dalam balai desa. Ternyata saya dimintai
bantuan untuk membuat surat kehilangan dan surat kuasa. Meskipun jurusan saya
hukum dan sudah berteman akrab dengan surat-surat semacam itu, entah mengapa
sekejab saya bingung mau ngapain, mau nulis apa, dll. Saya pun mulai panas
dingin dan bertanya kesana-kemari. Saya perlahan-lahan menenangkan diri sendiri
kemudian mulai mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan Alhamdulillah
lagi, surat-surat tersebut terselesaikan dengan baik.
Kemudian, hari
jumatnya saya membantu devisi kesehatan dan lingkungan untuk sosialisasi cuci
tangan dan sikat gigi kepada anak TK. Terlihat senyum tulus mereka menyambut
keberadaan kami disana. Meskipun gerimis mulai menemani, namun itu tidak
menghalangi keceriaan mereka ketika kegiatan itu berlangsung. Berlanjut ke sore
harinya, saya dengan anggota devisi ekonomi yang lainnya juga mengadakan
sosialisasi gerakan menabung pada anak-anak. Pada kegiatan kali ini, antusias
mereka semakin besar lagi.
Minggu ke-lima
ini kali pertamanya saya membantu devisi pendidikan untuk mengajar di kelas. Di
luar dugaan, ternyata mengajar itu sulitnya minta ampun terlebih saat mendapat
kelas yang siswa-siswinya super aktif. Harus benar-benar pandai mengkondisikan
kelas. Meskipun mereka terkadang sulit diatur dan tak jarang membuat jengkel,
namun ikatan persaudaraan mulai terjalin. Disela-sela minggu ini juga ada lomba
TPQ yang diikuti semua TPQ se-desa Kedungcangkring. Waktu seminggu terasa
begitu cepat hingga perpisahan dengan mereka pun tiba. Perpisahan dilakukan
dengan diadakannya jalan sehat dan senam bersama.
Kemudian minggu
ke-enam mulai disibukkan dengan persiapan PHBN HUT RI ke 72 baik di kecamatan
maupun di desa. Untuk kegiatan kecamatan sendiri, kami berpartisipasi mewakili
desa kedungcangkring dalam baris kreasi dan latihan dilakukan hampir setiap
malam di jalan dekat portal masuk ke waduk Wonorejo hingga hari H. Sedangkan
untuk PHBN desa ada sepeda hias, lomba-lomba agustusan di setiap dusun, dan
juga tak terketinggalan warung gratis tiap malamnya yang juga diadakan di setiap
dusun bahkan setiap gang. Kami pun membantu alakadarnya mulai dari menjaga
warung, memasak hingga yang paling dinanti-nanti yaitu mendampingi bu kades
berkeliling mengunjungi warung-warung tersebut. Alhamdulillah berkah KKN,
hampir lima hari setiap malamnya mendapat asupan gizi gratis dari warung-warung
yang di sediakan oleh warga.
Tak terasa waktu
pun cepat berlalu. 45 hari telah terlewati. Rasanya masih kemarin saat kemelut hati akan berangkat KKN,
namun sekarang sudah berada dipenghujung KKN.
Dan artinya waktu telah menyadarkanku untuk berpisah dengan desa yang
penuh pelajaran hidup ini, mengajarkan artinya persaudaraan, persahabatan,
bahkan keikhlasan. Semoga keberadaan kami disini tidak merugikan semua pihak
dan terimakasih untuk semuanya untuk pelajaran kehidupan yang telah diberikan
serta semoga desa Kedungcangkring ini terus dapat berkarya dan jaya. Amin..Jsc
Tidak ada komentar:
Posting Komentar