Jumat, 01 September 2017


KKN (Kisah KeponakaN) Iis Dahlia
Oleh: Sukma Choliardika

Dalam essay ini, saya akan menuangkan kisah singkat tentang manis asamnya ukiran kehidupan yang saya lalui sebagai mahasiswa mendekati akhir yang sedang menjani KKN di desa Kedungcangkring.
Hari Senin, tanggal 10 Juli 2017 tepatnya pada pukul 07.00 telah menjemput dari zona nyaman ku sebagai mahasiswa. Ya, saat itu merupakan puncak pembekalan terakhir sekaligus sebagai pelepasan mahasiswa semester 7 yang akan melaksanakan KKN Tematik Posdaya di beberapa daerah di nusantara. Acara tersebut dilaksanakan di lapangan utama IAIN Tulungagung dan dibuka oleh  Bpk. Dr. Maftukhin, M. Ag., selaku Bapak Rektor IAIN Tulungagung yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan pengarahan mengenai sikap dan kewajiban sebagai mahasiswa KKN . Hingga acara tersebut selesai dengan lancar.
Setelah pembukaan di kampus selesai, kemudian dilanjutkan menuju ke Posko masing-masing. Kedungcangkring merupakan desa pilihan saya untuk menjalani lika-liku kehidupan KKN. Di sepanjang jalan pikiran saya menari-nari tak karuan, memikirkan kemungkinan apa yang terjadi disana. Sekilas terlintas dibenakku "Bagaimana kalau aku tidak bisa beradaptasi disana? Bagaimana kalau cuacanya gak bersahabat? Bagaimana kalau ada bagaimana yang lainnya?".
Sejenak rindangnya pepohonan disepanjang jalan mengalihkan kemeluk hatiku. Hingga tak terasa sudah sampai di depan Posko. Setibanya disana, bu Win selaku pemilik rumah telah menyambut ramah dengan goresan senyumnya. Beliau memberikan kunci rumah serta mempersilahkan masuk. Kegiatan yang kami lakukan pertama yaitu membersikan serta menata rumah agar dapat ditempati semua anggota kelompok tak terkecuali membuat sekat pembatas untuk kaum adam dan kaum hawa.
Keesokan harinya, sebagian teman-teman anggota Posko mengikuti pembukaan KKN di kecamatan dan dilanjutkan adanya kunjungan bu Faizatul Istiqomah, M. Ed selaku dosen pembimbing lapangan (DPL). Saat Kunjungan tersebut, beliau memberikan arahan serta nasihat selama berada di lingkungan yang baru. Selain itu, kami juga berdiskusi dengan beliau mengenai agenda pembukaan KKN di di desa Kedungcangkring. Setelah diskusi selesai, kami pun melanjutkan untuk menyambung tali silaturahmi dengan bu Seniwati selaku Kepala desa Kedungcangkring dan membahas mengenai pembukaan di balai desa sekaligus meminta izin secara informal mengenai keberadaan kami di desa ini.
Kemudian hari-hari berikutnya, kisah saya benar" dimulai disini. Diawali dengan membuat mading Posko, bersilaturahmi ke tetangga Posko, mengajar TPQ, hingga membaca yasin dan tahlil di Posko untuk mengawali semua kegiatan yang akan kami jalani disini. Sebenarnya, ini kali pertamanya saya mengajar TPQ bahkan saya pun bukan termasuk dalam devisi keagamaan. Tak dapat dipungkiri bahwa sebelum berangkat mengajar TPQ, aura panas dingin mulai menyelimutiku. Perasaan takut salah, anak-anak yang sulit diatur pun mulai luntur saat setibanya di tempat TPQ. Ternyata anak-anak maupun guru TPQ disana menyambut dengan hangat kedatangan kami. Suasana pun mencair dengan sendirinya seiring berjalannya waktu saya mengajar.
Pada awal KKN, tiap pagi teman-teman di posko selalu di sambut oleh senyuman polos anak-anak kecil tetangga posko. Karena saat itu masih bertepatan dengan liburan semester sekolah. Kami pun mulai berkenalan dengan mereka dan hal-hal yang menggeletik pun sering terjadi terlebih saat sebagian dari mereka menganggap saya sebagai keponakannya seorang artis. Ya mereka mengatakan bahwa saya keponakannya Iis Dahlia karena saya memiliki kumis tipis. Dan sejak saat itu, mereka memiliki panggilan kesayangan kepada saya yaitu “Kakak Keponakannya Tante Iis Dahlia”. Entah saat mereka main ke posko untuk belajar, maupun saat bertemu di jalan, panggilan kesayangan itu selalu muncul.
Akhir Minggu pertama pun diisi dengan mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK guna membahas agenda-agenda yang akan berlangsung untuk acara PHBN baik di desa maupun partisipasi di kecamatan. Dan minggu pertama ditutup dengan kerja bakti di objek wisata Panji Laras, kemudian gladi bersih untuk acara pembukaan KKN di desa. Mengenai objek wisata Panji Laras ini merupakan objek wisata yang mulai dirintis di desa Kedungcangkring.
Minggu kedua diawali dengan pembukaan kegiatan KKN Tematik Posdaya di desa Kedungcangkring. Agenda tersebut dihadiri oleh DPL, Bu Kades, dan perangkat desa serta tamu undangan lainnya. Meskipun pembukaan KKN yang diselenggarakan di desa terpaut jauh dengan pembuaan KKN yang dilenggarakan oleh kampus, alhamdulillah agenda tersebut berjalan dengan lancar. Setelah agenda tersebut usai, DPL berkunjung ke posko untuk mengingatkan tugas masing-masing dan supaya menjaga diri dengan baik kemudian dilanjutkan dengan evaluasi posko 1 dan 2 guna menjaga silaturahmi semua peserta KKN di desa Kedungcangkring serta pembubaran kepanitiaan pembukaan KKN di desa.
Keesokan harinya kisah saya pun berlanjut dengan mengunjungi salah satu usaha produk olahan singkong yang terbilang sudah cukup terkenal di sini yaitu tape. Sesuai devisi yang saya emban yaitu devisi ekonomi, kami dari devisi ekonomi berusaha menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang hasil utama di desa ini. Setelah itu saya membantu devisi kesehatan yang di minta tolong oleh pihak pukesdes untuk melakukan pendataan keluarga sehat. Untuk memperoleh data tersebut kami harus berkeliling satu dusun dengan mengetuk satu per satu rumah yang ada disana.
Kemudian saya pun menjalankan proker devisi ekonomi bersama rekan-rekan devisi yaitu membuat kerajinan bunga dari platik dengan tujuan agar bisa memberikan inspirasi mengubah barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Dan malam harinya saya terkadang membantu devisi pendidikan untuk memberikan les kepada adik-adik disekitar posko yang sudah mulai masuk sekolah.
Minggu kedua ditutup dengan senam pagi dan dilanjutkan kerja bakti di objek wisata panji laras yang merupakan sasaran posdaya yang akan digalangkan oleh rekan-rekan KKN. Disana kami setiap minggunya membantu dengan sepenuh hati baik tenaga maupun pikiran.
Minggu ketiga pun masih berjalan dengan lancar. Devisi ekonomi kembali mengadakan pelatihan kepada anak-anak untuk membuat kerajianan dari kain flanel guna menambah kreatifitas mereka. Antusias mereka diluar dugaan, mereka sangat senang dan menyukai kegiatan ini. Setiap bertemu mereka selalu menanyakan kapan membuat kerajinan lagi. Selain itu minggu ini juga saya isi dengan membantu mengajar menari di SD serta mendapat kunjungan spesial dari pihak LP2M.
  Minggu keempat pengalaman baru pun menyapa lagi. Kali ini saya mendapat tugas untuk piket di balai desa. Dan sebelumnya saya sangat jarang memasuki yang namanya balai desa. Tapi alhamdulillah, perangkat desa disini semuanya welcome terhadap kami. Namun ada saat dimana tiba-tiba saya disuruh masuk ke dalam balai desa. Ternyata saya dimintai bantuan untuk membuat surat kehilangan dan surat kuasa. Meskipun jurusan saya hukum dan sudah berteman akrab dengan surat-surat semacam itu, entah mengapa sekejab saya bingung mau ngapain, mau nulis apa, dll. Saya pun mulai panas dingin dan bertanya kesana-kemari. Saya perlahan-lahan menenangkan diri sendiri kemudian mulai mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan Alhamdulillah lagi, surat-surat tersebut terselesaikan dengan baik.
Kemudian, hari jumatnya saya membantu devisi kesehatan dan lingkungan untuk sosialisasi cuci tangan dan sikat gigi kepada anak TK. Terlihat senyum tulus mereka menyambut keberadaan kami disana. Meskipun gerimis mulai menemani, namun itu tidak menghalangi keceriaan mereka ketika kegiatan itu berlangsung. Berlanjut ke sore harinya, saya dengan anggota devisi ekonomi yang lainnya juga mengadakan sosialisasi gerakan menabung pada anak-anak. Pada kegiatan kali ini, antusias mereka semakin besar lagi.
Minggu ke-lima ini kali pertamanya saya membantu devisi pendidikan untuk mengajar di kelas. Di luar dugaan, ternyata mengajar itu sulitnya minta ampun terlebih saat mendapat kelas yang siswa-siswinya super aktif. Harus benar-benar pandai mengkondisikan kelas. Meskipun mereka terkadang sulit diatur dan tak jarang membuat jengkel, namun ikatan persaudaraan mulai terjalin. Disela-sela minggu ini juga ada lomba TPQ yang diikuti semua TPQ se-desa Kedungcangkring. Waktu seminggu terasa begitu cepat hingga perpisahan dengan mereka pun tiba. Perpisahan dilakukan dengan diadakannya jalan sehat dan senam bersama.
Kemudian minggu ke-enam mulai disibukkan dengan persiapan PHBN HUT RI ke 72 baik di kecamatan maupun di desa. Untuk kegiatan kecamatan sendiri, kami berpartisipasi mewakili desa kedungcangkring dalam baris kreasi dan latihan dilakukan hampir setiap malam di jalan dekat portal masuk ke waduk Wonorejo hingga hari H. Sedangkan untuk PHBN desa ada sepeda hias, lomba-lomba agustusan di setiap dusun, dan juga tak terketinggalan warung gratis tiap malamnya yang juga diadakan di setiap dusun bahkan setiap gang. Kami pun membantu alakadarnya mulai dari menjaga warung, memasak hingga yang paling dinanti-nanti yaitu mendampingi bu kades berkeliling mengunjungi warung-warung tersebut. Alhamdulillah berkah KKN, hampir lima hari setiap malamnya mendapat asupan gizi gratis dari warung-warung yang di sediakan oleh warga. 
Tak terasa waktu pun cepat berlalu. 45 hari telah terlewati. Rasanya masih kemarin saat kemelut hati akan berangkat KKN, namun sekarang sudah berada dipenghujung KKN.  Dan artinya waktu telah menyadarkanku untuk berpisah dengan desa yang penuh pelajaran hidup ini, mengajarkan artinya persaudaraan, persahabatan, bahkan keikhlasan. Semoga keberadaan kami disini tidak merugikan semua pihak dan terimakasih untuk semuanya untuk pelajaran kehidupan yang telah diberikan serta semoga desa Kedungcangkring ini terus dapat berkarya dan jaya. Amin..Jsc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar