Minggu, 02 Oktober 2016

Tentangmu Yang (masih) Ku Nanti



Kali ini pun masih dalam penantian yang sama. Dengan rasa yang entah bagaimana menelusurinya. Dengan nama masih sama yang setia ku sebut di kala doa. Entah Tuhan telah bosan atau bahkan bingung mendengarkannya. Terkadang ku meminta kepada-Nya untuk mendekatkan kita, tetapi di lain sisi ku harap agar lenyap rasa yang tak semestinya ada untuknya. Hingga kini pun Tuhan belum menjadikan lagi kita, tetapi belum pula hilang rasa ini untuknya.
Entah bagaimana aku harus bercerita. Darimana aku harus memulainya. Apa yang akan aku tanyakan kepadamu. Bagaimana cara ku meminta kepastian darimu. Kamu begitu mengabaikanku. Tanpa peduli aku (masih) menunggumu. Masih ku pegang tiga kata yang terucap darimu. Dulu, sekarang selamanya. Apakah itu hanya sepenggal kata yang terucap dari siswa SMA? Ataukah sebuah bualan manis darimu?
Akankah kamu hanya sebagai goresan pelangiku?? Kamu mewarnai kehidupan yang datang selepas rinai hujan, namun hilang kemudian. Ya, kamu dulu yang setia mendengarkan semua ocehanku, yang menguatkanku kala cobaan bertubi-tubi mengujiku. Hingga sebaris kata itu pun terucap darimu. Walaupun ku malu-malu menjawabnya, namun kamu mengerti maksudku. Kamu pula lah yang mewarnai hari-hariku kala itu, menyingkirkan keabu-abuan duniaku. Kamu selalu punya cara untuk membuatkku semakin nyaman dengan hadirmu. Walaupun kamu menyikapi ku dengan sifat cuek mu, namun aku masih dapat merasakan perhatianmu padaku. Butuh kesabaran extra untuk mengiringimu. Namun, entah karena kamu sudah bosan ataukah karena kesibukanmu, waktu pun semakin menumbuhkan jarak antara kita. Tak ada lagi pesan darimu secara langsung tertuju padaku. Oke, mungkin kita masih sering bertemu dalam suatu grup karena kita bertemankan dengan sebagian orang yang sama. Fisik kita pun didekatkan kala itu, namun ada sekat yang entah bagaimana caraku melewatinya. Aku tidak mengenalmu. Hanya satu yang aku tahu, bahwa kecuekanmu dulu telah menjelma dalam dingin sikapmu. Yang dulu mampu mewarnai hariku, kini membekukan duniaku.
Walaupun masih tersisa keyakinanku akan mu. Masih namamu yang ku selipkan dalam setiap doa ku. Tenang, aku tidak memaksakan Tuhan agar menyatukan kita. Aku hanya meminta takdir tebaik dari Nya untuk kita. Semoga kita selalu bergahagia entah dengan ataupun tanpa. Meski pun dengan harapan kau lah jawaban atas sebuah doa yang telah, akan dan selalu menemani setiap nafas kehidupan. Namun hasil akhir sepenuhnya kuserahkan kepada Nya, Sang Pembolak-balik Hati. Tentangmu yang (masih) ku nanti.
–s15c-