Dewi
Themis merupakan salah satu sosok dalam Mitologi Yunani yang melambangkan
tentang keadilan yang coba dihadirkan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi.
Dalam legenda Yunani Kuno, Themis dianggap sebagai Dewi Keadilan yang sosoknya
digambarkan sebagai Dewi dengan kedua matanya tertutup secarik kain hitam
sedangkan kanan kiri membawa timbangan/ neraca dan di tangan kanannya terdapat
sebilah pedang. Seolah-olah timbangan yang menggantung dari tangan kirinya
tersebut menggambarkan keadilan dimana mengukur pembelaan dan perlawanan dalam
pencarian keadilan ada kesamaan atau sama beratnya. Sedangkan pedang di tangan
kanan Themis, bermakna kekuatan untuk menegakkan keadilan yang seolah siap
menebas apapun yang culas, memberantas segala sesuatu yang menindas. Kemudian Themis
juga digambarkan menggunakan penutup mata yang dimaksudkan untuk mengindikasi
bahwa keadilan harus diberikan secara objektif tanpa pandang bulu, semua
diperlakukan sama dihadapan hukum.
Sementara
dalam Mitologi Romawi, sosok dewi keadilan ini dikenal sebagai Lady Justice
atau hanya dikenal dengan “Justice”. Dia digambarkan dengan wajah tenang
membawa timbangan dan pedang bermata dua di kedua tangannya serta ditampilkan
dengan mata tertutup sejak tahun 1500-an.
Namun
bagaimana realita hukum saati ini? Saat Dewi Themis tak lagi seanggun penggambaran
sosoknya. Saat Dewi Themis terkadang sangat genit, mulai senang bermain mata,
melirik kesana-kemari mereka yang bepangkat,
yang berkuasa, yang menguntungkan, serta berduit. Saat timbangan di tangannya
tak lagi berhati-hati memposisikan tempatnya, malas di stel ulang hingga
menjadikannya sebagai alat ukur yang tak lagi akurat. Saat pedangnya tak lagi
diasah hingga menjadikannya tumpul. Kalaupun sesekali diasah hanya pada salah
satu sisinya saja yang mengakibatkan tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Menyuguhkan
sisi yang tumpul ketika berhadapan pada mereka yang berkuasa sedangkan tak ragu
untuk menghunuskan ketajaman pedangnya kepada objek yang lemah.
Apakah
Dewi Themis hanya merupakan seonggok simbol ataukah ia memang pernah hidup
dalam penegakkan hukum yang entah di belahan bumi mana?
Jika
memang ada, kembalilah wahai Dewi Themis. Wujudkanlah kembali anggunmu sebagaimana
yang tergambarkan dalam fiksimu...
